Username
Kata Sandi
Daftar Anggota
Lupa Kata Sandi
Kontak | Tentang Kami

ARTIKEL

Mass Grave: Lebih Dari Film Dokumenter Biasa

23 Oct 07  oleh : Administrator

(Mass Grave // Lexy Junior Rambadeta // 2001 // 26 menit // film dokumenter // koleksi Festival Film Dokumenter)

Mass Grave, Film dokumenter yang dibuat atas biaya sendiri oleh sang sutradara, yaitu Lexy Junior Rambadeta adalah film yang bercerita tentang penggalian kuburan massal korban pembantaian yang diduga sebagai anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) di Wonosobo. Adalah Ibu Muryati, salah satu anak dari sekian korban meminta untuk menggali kuburan massal itu untuk menemukan jenazah ayahnya agar bisa dimakamkan secara layak di pemakaman keluarga. Ketika pemugaran berhasil dilakukan, cerita seperti kembali ke awal. Tulang belulang itu masih tak bisa dikuburkan secara layak melainkan dibakar oleh warga yang tidak setuju hanya karena momok masa lalu buruknya citra PKI.

Film ini sebagian besar menceritakan proses penggalian dan juga cerita masa lalu dibalik pembantaian tersebut serta reaksi masyarakat atas peristiwa tersebut. Sebagai dokumenter, film ini berusaha untuk menyuguhkan bahwa apapun alasan dibalik pembantaian tersebut atau siapapun yang salah, peristiwa ini tetap harus dipandang sebagai dehumanisasi manusia. Dengan durasi 26 menit, banyak hal yang berhasil tersampaikan, bukan saja kekejaman masa lalu yang terungkap lewat penggalian tapi juga buntut panjang dari sejarah yang mempengaruhi masyarakat.

Senada dengan isu penting yang diangkatnya, elemen-elemen wajib dari sebuah film dokumenter pun digarap dengan sangat baik. Sehingga ia bukan saja bisa menjadi arsip tapi juga menyadarkan masyarakat tentang isu yang diangkat.

Pembangunan objektivitas dalam Mass Grave

Hal pertama yang patut digarisbawahi adalah objektivitas film ini dalam mengolah data. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebuah karya, apapun, pasti memihak. Keberpihakanlah yang menjadi nyawa sebuah film dokumenter. Mass Grave membela keluarga korban yang masih juga dikucilkan oleh masyarakat. Keluarga korban, dalam hal ini ditampilkan sebagai “yang tidak mempunyai maksud politik apa-apa melainkan keinginan pribadi seorang anak yang menginginkan si ayah dikubur dengan layak”. Objektivitas ditunjukkan melalui shot kamera. Hampir semuanya menggunakan medium shot dengan eye-angle (cara pengambilan gambar sejajar dengan mata obyek kamera :ed) setiap kali melakukan wawancara. Medium shot membawa kesan tetap fokus namun tidak mendramatisir. Melalui cara ini, sutradara memberi jarak kepada penonton untuk ikut bersikap objektif.

Close up shot pada saat wawancara hanya terjadi dua kali dalam film ini, yaitu saat pengacara keluarga korban, Ester Indahyani menceritakan proses dan kemungkinan perasaan korban ketika dibawa ke tempat tersebut untuk dibunuh. Teknik ini digunakan untuk menunjukkan bagaimana keadaan seseorang sebagai manusia ketika menemui ajalnya. Close up yang kedua diarahkan pada tulang yang dipegang oleh seorang saksi yang didatangkan ke lokasi tersebut. ibu Sulami, si saksi merupakan seorang korban yang dipenjara dua puluh tahun karena perbuatan yang tidak ia lakukan. Hal ini ditampilkan seolah ingin menegaskan bahwa terlepas dari masalah benar atau salah, namun pembunuhan itu telah terjadi.

Pihak-pihak yang diwawancarai pun beragam, mulai dari korban yang selamat dari pembantaian PKI, secara umum, sejarawan, sosiolog, keluarga korban, sampai dokter forensik dengan kapasitasnya masing-masing. Hal ini untuk memberi opsi kepada penonton tentang kebenaran suatu peristiwa. Film ini juga tidak menggunakan scoring yang berlebihan bahkan sedikit sekali untuk mencegah pendramatisiran cerita terjadi.

Alur Kisah dan Momen Dramatik

Riset yang mendalam dan insting yang bagus untuk menerka kejadian selanjutnya juga berperan penting untuk mendapatkan kelanjutan yang mengejutkan dari cerita penggalian kuburan massal ini. Hal itu terjadi ketika film menginjak menit ke-18, menunjukan masa empat bulan dari waktu penggalian ketika para keluarga korban ingin menguburkan tulang belulang mereka di desa Kaloran, Temanggung. Masyarakat tidak setuju dan melakukan pemboikotan. Rumah keluarga korban diserang dan akhirnya, peti-peti yang berisi tulang belulang itu tak jadi dikuburkan melainkan dibakar.

Selain itu, editing film ini pun jempolan. Film ditata sedemikian rupa sehingga mampu membentuk jalinan cerita seperti laiknya fiksi. Editor mampu menggiring penonton untuk masuk ke dalam jaring laba-laba cerita dengan kemampuannya menata adegan demi adegan. Film dimulai dengan opening credit gambar peta wilayah Yogyakarta diikuti oleh garis merah menuju ke Wonosobo, tempat kuburan massal itu terletak. Alih-alih menerangkan apa yang sebenarnya terjadi di tempat itu, apa tujuannya dan langsung fokus kepada tokoh utamanya, editor memilih untuk menampilkan keterangan masyarakat umum tentang apa yang terjadi pada masa lalu. Dari sini, penonton mendapatkan informasi dasarnya, seperti tentang berapa banyak korban, mengapa mereka dibantai di tempat itu, dan apa yang sedang dilakukan orang-orang sekitar. Scene kedua, penonton baru mendapatkan keterangan tentang penggalian tersebut. Scene selanjutnya adalah pendapat atau keterangan dari berbagai pihak, yaitu para korban yang selamat. Pramoedya Ananta Toer selaku sejarawan, sosiolog Arief Budiman, dan pengacara keluarga korban tentang peristiwa pembantaian tersebut dan alasan-alasan dibalik semua itu. Hal yang menarik dari keterangan-keterangan ini adalah penyelipan arsip-arsip masa lalu tentang Partai Komunis Indonesia sesuai dengan keterangan yang diwawancarai. Misalnya, ketika seorang korban yang selamat menceritakan tentang proses penangkapan, arsip yang ditampilkan pun tentang peristiwa penangkapan. Lagi-lagi ini membuktikan riset yang mendalam telah dilakukan hingga bisa mendapatkan gambar yang sesuai tentang kronologis peristiwa, mulai dari PKI masih menjadi partai legal hingga akhirnya dianggap sebagai penjahat yang patut dimusnahkan. Hal ini memberi penonton gambaran yang jelas dan utuh tentang peristiwa tersebut. Gambar-gambar tersebut juga menjadi pendukung bukti tentang kebenaran dari pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh masing-masing pihak.

Tidak seperti film dokumenter lainnya, film ini layaknya sebuah drama tiga babak lengkap dengan unsur-unsur plotnya. Ada perkenalan atau introduction part tempat cerita dimulai dan tokoh-tokoh diperkenalkan. Fase klimaks berada ketika para warga tidak setuju, memboikot, dan melakukan kekerasan, sampai pada resolusi atau penyelesaian hanya dengan satu scene: peti-peti yang dibakar. Aksi penolakan keras masyarakat menjadi klimaks yang baik bila ditilik dari proses pembangun sebuah cerita.

Secara tidak langsung, Lexy memberikan posisi antagonis dan protagonis dalam ceritanya ini. Protagonis diduduki oleh para keluarga korban sedangkan bagian antagonisnya direpresentasikan oleh masyarakat yang tidak paham betul sejarah. Peristiwa penolakan masyarakat muslim Temanggung dalam cerita ini juga mempunyai pesan moral yang bagus. Kecuali menunjukkan efek fatal dari kesalahan sejarah, hadirnya tokoh Gusdur sebagai ketua NU juga memberikan pesan lain. Di sela-sela scene yang menunjukkan ketidaksetujuan sekelompok masyarakat, mengatasnamakan semua oraganisasi Islam termasuk NU, Gusdur menjelaskan bahwa ada kesalahan tafsir masyarakat Islam tentang Partai Komunis Indonesia. Hal ini bertolakbelakang sekali dengan pendapat masyarakat muslim yang tidak setuju penguburan itu.

Sutradara tampak ingin mengangkat ini sebagai sebuah isu besar yang terjadi di Indonesia. Struktur induksi dipakai dalam merangkai cerita membuat penonton menyadari bahwa ini tidak saja terjadi di Wonosobo tapi juga banyak di tempat lain. Peristiwa di Wonosobo menjadi contoh tanpa bersifat kasuistis.

[Corry dan Y. Kartika RW]

Tulisan ini merupakan hasil workshop yang diadakan dalam program Mari Menonton oleh Kinoki Yogyakarta bekerjasama dengan Konfiden. Untuk keterangan lebih lanjut silahkan hubungi; marimenonton@yahoo.com dan kunjungi marimenonton.blogspot.com


Home | Agenda | Berita | Artikel | Link | Forum
@2007 FILMALTERNATIF.ORG
 

Select Language

Berita Terbaru

KONGRES NASIONAL KEGIATAN FILM BERBASIS KOMUNITAS 2010

UNDANGAN TERBUKAKONGRES NASIONAL KEGIATAN FILM BERBASIS K...

“We Care” South to South Film Festival 2010

Pada tanggal 22 hingga 24 Januari 2010 akan diselenggarakan...

Pemkab Purbalingga Kembali Berulah

Di penghujung tahun, Pemerintah Kabupaten Purbalingga melal...

Berbagi Dan Belajar Dengan CLC Purbalingga

Dunia film pendek di Banjarnegara sedang menggeliat dan b...

Artikel Terbaru

Yang Luput dari Film Indonesia

Mungkinkah film Indonesia membantu mendewasakan politik b...

Perempuan Banyumas dalam Film

Di Banyumas, film awalnya hanya diperlakukan sebagai salah ...

Hanoi Yang Menggeliat

Pada pertengahan Desember 2008, penulis berkesempatan unt...

Festival Yang Sedang Bersedih.

Belum terlihat kesibukan yang berarti di ruangan itu, sedan...