Username
Kata Sandi
Daftar Anggota
Lupa Kata Sandi
Kontak | Tentang Kami

ARTIKEL

Hanoi Yang Menggeliat

07 Jan 09  oleh : Administrator

Pada pertengahan Desember 2008, penulis berkesempatan untuk berkunjung ke Hanoi, Vietnam untuk melakukan sebuah presentasi kecil tentang perkembangan film alternatif di Indonesia, serta jaringan komunitas film Indonesia. Penulis melakukan presentasi di sebuah pusat pengembangan film bernama Center for Assistance and Development of Movie Talents (TPD) yang berada dibawah naungan Vietnam Cinema Association.

Sejujurnya, sebelum berkunjung kesana penulis tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai kondisi perfilman di Vietnam, khususnya film pendek. Penulis hanya pernah sekali menonton sebuah film dokumenter dari Hanoi yang diproduksi pada tahun 2007, Love Man Love Woman karya Nguyen Trinh Thi. Selebihnya hanya serpihan informasi yang kurang memadai.

Setiba disana, penulis menyaksikan sebuah kota (dan negara – yang konon sosialis) sedang menggeliat. Vietnam memang diprediksi akan menjadi satu kekuatan ekonomi penting di wilayah Asia Tenggara untuk masa depan. Kesibukan pembangunan cukup terlihat di berbagai sudut kota.

Industri perfilman di Vietnam sedang menggeliat. Transformasi pengetahuan dan teknologi terjadi dengan cukup signifikan. Penulis mendapat berita bahwa investasi besar sedang dilakukan (pada tahap penjajakan) oleh Hollywood. Bisa jadi benar adanya, karena penulis melihat beberapa acara yang mengundang para pelaku industri film Hollywood, dari sutradara hingga produser dalam beberapa event.

Di Hanoi terdapat Hanoi Academy of Theater and Cinema. Basis pendidikan film mereka dominan menggunakan teknologi video. Film pendek yang diproduksi kebanyakan merupakan bagian dari tugas mahasiswa.

Selain itu, banyak workshop produksi film yang dilakukan terutama oleh TPD. TPD yang didirikan pada tahun 15 Agustus 2002 memang dibuat sebagai tempat pengembangan talenta film Vietnam, khususnya di kota Hanoi. TPD sendiri memiliki beberapa program selain workshop seperti pemutaran film regular, serta diskusi.


TPD memiliki fasilitas serta infrastruktur yang amat memadai, lebih dari yang penulis bayangkan. TPD memiliki sebuah ruang pemutaran sekaligus tempat diskusi dengan kapasitas 30 kursi, perpustakaan film yang lumayan lengkap, perpustakaan literatur yang terus berkembang, ruang kerja produksi, serta peralatan produksi yang cukup mumpuni.

Komunitas Film di Hanoi


Komunitas film ternyata bukan sesuatu yang umum di Hanoi. Selama ini para penggiat film, utamanya film pendek lebih banyak bekerja sendiri. Hanya baru-baru saja ada satu-dua penggiat film di Hanoi yang berinisiatif membentuk kelompok, seperti Hi-Deff yang banyak bekerjasama dengan TPD dalam program pemutaran dan diskusi.

Ketika penulis berbincang dengan beberapa penggiat film alternatif disana, penulis menemukan persoalan yang dominan adalah soal kontrol negara atas kegiatan yang mereka lakukan, juga sikap apatis dari para penggiat film pendek lainnya yang enggan untuk bekerja secara kolektif. Tampaknya inilah yang coba diubah oleh TPD dan Hi-Deff, bahwa kegiatan semacam ini kerja kolektif adalah utama sifatnya.

Ketika penulis melakukan presentasi mengenai jaringan komunitas film di Indonesia serta sedikit sejarah mengenainya, respon pengunjung cukup mengejutkan. Bagi mereka, apa yang terjadi di Indonesia dengan kehadiran komunitas film adalah sesuatu yang selalu mereka harapkan dapat terjadi di Hanoi.

Waktu 10 hari tidaklah cukup bagi penulis untuk mengetahui seluruh seluk beluk perfilman di Vietnam. Namun dari kunjungan singkat itu penulis sangat beruntung mendapatkan berbagai informasi penting. Penulis pun sempat berdiskusi serius dengan beberapa penggiat film disana untuk membuat festival kecil bagi film pendek dari Asia Tenggara di tahun 2009.

Jaringan Asia Tenggara

Selama ini penulis tidak banyak mengetahui perkembangan perfilman di wilayah Asia Tenggara, sampai pada akhir tahun 2006 dan 2007 penulis terlibat dengan Konferensi Sinema Asia Tenggara di Kuala Lumpur dan Jakarta. Dari sana penulis mulai mendapatkan informasi mengenai film di Asia Tenggara, terutama film pendek. Dan tentu saja, pintu yang baru terbuka itu membawa banyak hal yang menarik.

Kunjungan singkat ke Hanoi memberikan tambahan pengetahuan bagi penulis. Hal yang paling menarik adalah mengetahui kesamaan sekaligus perbedaan dari karya-karya film pendek Asia Tenggara serta dinamika perkembangannya.

Apa yang penulis saksikan di Hanoi membuat penulis banyak teringat bagaimana awal film pendek tumbuh dan berkembang paska reformasi 10 tahun yang lalu di Indonesia. Penulis meyakini terlepas masih banyaknya kelemahan serta pekerjaan rumah yang harus dibenahi dalam mengembangkan film (pendek) di Indonesia serta kawasan Asia Tenggara, terdapat kekuatan yang sangat menarik untuk terus digali.

Dimas Jayasrana

Home | Agenda | Berita | Artikel | Link | Forum
@2007 FILMALTERNATIF.ORG
 

Select Language

Berita Terbaru

KONGRES NASIONAL KEGIATAN FILM BERBASIS KOMUNITAS 2010

UNDANGAN TERBUKAKONGRES NASIONAL KEGIATAN FILM BERBASIS K...

“We Care” South to South Film Festival 2010

Pada tanggal 22 hingga 24 Januari 2010 akan diselenggarakan...

Pemkab Purbalingga Kembali Berulah

Di penghujung tahun, Pemerintah Kabupaten Purbalingga melal...

Berbagi Dan Belajar Dengan CLC Purbalingga

Dunia film pendek di Banjarnegara sedang menggeliat dan b...

Artikel Terbaru

Yang Luput dari Film Indonesia

Mungkinkah film Indonesia membantu mendewasakan politik b...

Perempuan Banyumas dalam Film

Di Banyumas, film awalnya hanya diperlakukan sebagai salah ...

Hanoi Yang Menggeliat

Pada pertengahan Desember 2008, penulis berkesempatan unt...

Festival Yang Sedang Bersedih.

Belum terlihat kesibukan yang berarti di ruangan itu, sedan...