Kamis (19/11) malam kemarin, Yayasan Konfiden kembali menggelar
Festival Film Pendek Konfiden (FFPK 2009). Tahun ini adalah satu dasawarsa perjalanan Konfiden dengan festival film pendeknya, semenjak pertama kali digelar pada tahun 1999. namun bukan gegap gempita yang sedang ditawarkan oleh Konfiden melalui FFPK 2009, tetapi wajah kemurungan.
Bila menilik kembali FFPK 2008, persoalan jumlah karya merupakan salahsatu isu krusial yang terbahas, 18 film terseleksi dari 140 film yang mendaftar (baca
“Festival Yang Sedang Bersedih”). Dan tahun ini, FFPK 2009 menyeleksi 10 film dari 121 judul yang masuk ke meja dewan program FFPK.
Situasi yang cukup memberatkan dalam perjalanan sebuah festival, ketika pilihan terhadap sebuah karya yang ‘layak’ tampil berbanding terbalik dengan besaran jumlah produksi yang ada. Artinya, sulit bagi sebuah festival untuk menempatkan
value bagi tiap program yang dibentuknya ketika pilihan karya menjadi terlalu sempit.
Dalam Pengantar Dewan Program FFPK 2009, disebutkan bahwa
“tontonan televisi kita benar-benar menumpulkan daya imajinasi dan kreativitas. Penceritaan yang berlebihan, instan, dan penyederhanaan yang membahayakan adalah contoh pengaruh televisi yang tampak jelas dalam film pendek fiksi. Victimize victims, misleading, bentuk jurnalistik televisi, dan gaya potret (atau profil individu) yang umum dijumpai dalam program dokumenter televisi ternyata sangat nyata pengaruhnya pada karya dokumenter kita”. Ini merupakan tangkapan fenomena yang terbaca oleh dewan program FFPK 2009. Sesuatu yang bisa jadi sangat mengkhawatirkan bagi keberlanjutan kekaryaan, yang notabene didominasi oleh pembuat film muda yang berasal dari kantong-kantong komunitas film yang tersebar seantero nusantara.
Wajah Lain KemurunganTernyata kemurungan yang tersirat dari penyelenggaraan FFPK kali ini tidak berhenti sebatas soal minimnya karya layak tayang bagi FFPK. 10 tahun sudah perjalanan Yayasan Konfiden dengan FFPKnya, ternyata masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang terserak disana-sini.
Dalam pidato pembukaan festival, Alex Sihar, Direktur Yayasan Konfiden menjabarkan persoalan besar diluar penyelenggaraan festival itu sendiri. UU Perfilman yang baru saja disahkan dianggap memiliki kontrol absolut oleh pihak negara terhadap dunia perfilman di Indonesia dan tidak memberi ruang gerak bagi industri maupun non industri untuk berkembang dengan sendirinya.
Disisi lain, jaminan terhadap keberlangsungan ruang semacam FFPK dari pihak pemerintah pun masih dirasa sebagai pepesan kosong berkepanjangan. Tentu saja ini menjadi isu klasik yang sangat mungkin terlalu basi untuk terus dipersoalkan.
Tampaknya Yayasan Konfiden pun masih tertatih-tatih dalam penyelenggaraan festivalnya, di tahun kesepuluh. Bukan waktu yang singkat, namun ternyata belum cukup untuk menapakan langkah dengan seimbang. Satu dasawarsa telah dilewati FFPK, dan semoga satu dasawarsa kemudian kita masih berjumpa dengannya.
FA-09Festival Film Pendek Konfiden
19 - 22 November 2009
Galeri Cipta 3 dan Kineforum Taman Ismail Marzuki
Masuk Gratis